Selasa, 04 September 2012

Global Warming

By: Robin Ginting, S.Pd
        
            Indonesia adalah negara yang pernah dijuluki paru-paru dunia, hal itu di latar belakangi oleh indonesia memiliki wilayah hutan yang luas. akan tetapi perlahan pohon-pohon beralih habitat, yang tadinya di hutan sekarang sudah berada di pabrik-pabrik dalam bentuk gelondongan. dan sebagian besar lagi beralih pungsi untuk pemukiman. dan kalau kita lihat belakangan ini suhu semakin meningkat dan hampir disetiap daerah pernah terkena banjir bandang. hal ini akibat dari hutan indonesia yang mulai gundul, belum lagi kebakaran hutan.  

Gunung es yang mulai mencair

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas kalor lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Senin, 03 September 2012

BioMol

 Biomolekuler

By. Robin Ginting 

KROMOSOM
Kromosom adalah kromatin yang merapat, memendek dan membesar pada waktu terjadi proses pembelahan dalam inti sel (nucleus), sehingga bagian – bagiannya dapat terlihat dengan jelas di bawah mikroskop biasa. Kromosom berasal dari kata chroma = berwarna, dan soma = badan. Terdapat di dalam plasma nucleus, berupa benda – benda berbentuk lurus seperti batang atau bengkok, dan terdiri dari bahan yang mudah mengikat zat warna.
Istilah kromosom pertama kali diperkenalkan oleh W. Waldeyer pada tahun 1888, walaupun Flemming (1879) telah melihat pembelahan kromosom di dalam inti sel. Ahli yang mula – mula menduga bahwa benda – benda tersebut terlibat dalam mekanisme keturunan ialah Roux (1887) melaporkan bahwa banyaknya benda itu di dalam nucleus dari mahkluk yang berbeda adalah berlainan, dan jumlahnya tetap selama hidupnya.
Morgan (1993), menemukan fungsi kromosom dalam pemindahan sifat – sifat genetik. Beberapa ahli lainnya seperti Heitz (1935), Kuwanda (1939), Gritter (1940) dan Kauffmann (1948), kemudian menyusul memberi keterangan lebih banyak tentang morfologi kromosom.

MORFOLOGI KROMOSOM
Kromosom dapat dilihat dengan mudah, apabila menggunakan teknik pewarnaan khusus selama nukleus membelah. Hal ini karena pada saat itu kromosom mengadakan kontraksi sehingga menjadi lebih tebal, dan dapat mengisap zat warna lebih baik. Ukuran kromosom bervariasi bagi setiap species. Panjangnya berkisar antara 0,2 – 50 mikron, diameternya antara 0,2 – 20 mikron dan pada manusia mempunyai panjang 6 mikron.
Bagian Kromosom
Satu kromosom terdiri dari 2 (dua) bagian :
1. Sentromer, disebut juga kinetochore, merupakan bagian kepala kromosom. Fungsinya adalah sebagai tempat berpegangan benang plasma dari gelendong inti (spindle) pada stadium anafase. Sentromer tidak mengandung kromonema dan gen.
2. Lengan, ialah badan kromosom sendiri. Mengandung kromonema dan gen. Lengan memiliki 3 daerah :
a. Selaput, ialah lapisan tipis yang menyelimuti badan kromosom
b. Kandung / matrix, mengisi seluruh lengan, terdiri dari cairan bening
c. Kromonema, ialah benang halus berpilin – pilin yang terendam dalam kandung, dan berasal dari kromonema kromatin sendiri. Di dalam kromonema terdapat kromomer (pada manusia tidak jelas). Bagian Lengan Kromosom
Melihat pada perbedaan banyaknya mengisap zat warna teknik mikroskopik, kromatin (kromosom yang sedang tidak mengalami proses pembelahan) dibedakan oleh E. Hertz (1928) atas :
1. Heterokromatin, ialah daerah kromatin yang relatif lebih banyak dan lebih mudah mengisap zat warna dibandingkan dengan bagian lain dari lengan
2. Eukromatin, ialah daerah kromatin yang terang dan mengandung gen – gen yang sedang aktif Pada satu kromatin, daerah hetero tersebar di antara eukromatin, paling banyak dekat sentromer. Daerah heterokromatin sewaktu waktu dapat berubah menjadi eukromatin, bilamana gen – gennya berubah menjadi aktif. Sebaliknya daerah eukromatin dapat pula berubah menjadi heterokromatin, pada saat gen – gennya tidak aktif atau beristirahat. Dengan demikian dapatlah kita ketahui, bahwa suatu gen tidak selalu giat melakukan transkripsi, bergantung pada kebutuhan sel pada waktu bermetabolisme.
Berdasarkan letak sentromer, dan melihat panjang lengannya, maka kromosom dapat dibedakan atas 4 macam :
a. Metasentris :
-sentromer : terletak median (kira – kira di tengah kromosom), sehingga kromosom terbagi menjadi dua -lengan sama panjang dan mempunyai bentuk seperti huruf V

b. Submetasentris
-sentromer terletak submedian (ke arah salah satu ujung kromosom), sehingga kromosom terbagi menjadi dua bagian yang tidak sama panjang
-lengan yang tidak sama panjang, dan mempunyai bentuk seperti huruf J
c. Akrosentris
-sentromer terletak subterminal (di dekat ujung kromosom), sehingga kromosom tidak membengkok melainkan tetap lurus seperti batang.
-Salah satu lengan kromosom sangat pendek, sedang lengan lainnya sangat panjang
d. Telosentris
-sentromer terletak di ujung kromosom, sehingga kromosom hanya terdiri dari sebuah lengan saja dan berbentuk lurus seperti batang. (Kromosom manusia tidak ada yang berbentuk telosentris)

TIPE KROMOSOM
Menjelang abad ke-20, banyak peneliti telah mencoba untuk mengetahui jumlah kromosom yang terdapat di dalam nucleus sel tubuh manusia, tetapi selalu menghasilkan data – data yang berbeda karena pada waktu itu teknik pemeriksaan kromosom masih terlalu sederhana. Dalam tahun 1912, Winiwater menyatakan bahwa di dalam sel tubuh manusia terdapat 47 kromosom. Tetapi kemudian pada tahun 1920 Painter menegaskan penemuannya, bahwa manusia memiliki 48 kromosom. Pendapat ini bertahan sampai 30 tahun lamanya, sampai akhirnya Tjio dan Levan dalam tahun 1956 berhasil membuktikan melalui teknik pemeriksaan kromosom yang lebih sempurna, bahwa nucleus sel tubuh manusia mengandung 46 kromosom.

Kromosom manusia dibedakan atas 2 tipe :
1. Autosom, ialah kromosom biasa, yang tidak berperan menentukan dalam mengatur jenis kelamin. Dari 46 krmosom di dalam nucleus sel tubuh manusia, maka yang 44 buah (22 pasang) merupakan autosom
2. Gonosom, ialah seks kromosom (kromosom kelamin), yang berperan dalam menentukan jenis kelamin. Biasanya terdapat sepasang kromosom. Melihat macamnya dapat dibedakan atas Kromosom X dan Kromosom Y

Makalah

Robin Ginting (8126713027) 
Tugas Fisiologi




I.     PENGERTIAN DORMANSI

Dormansi adalah suatu keadaan berhenti tumbuh yang dialami organisme hidup atau bagiannya sebagai tanggapan atas suatu keadaan yang tidak mendukung pertumbuhan normal. Dengan demikian, dormansi merupakan suatu reaksi atas keadaan fisik atau lingkungan tertentu. Pemicu dormansi dapat bersifat mekanis, keadaan fisik lingkungan, atau kimiawi.
Banyak biji tumbuhan budidaya yang menunjukkan perilaku ini. Penanaman benih secara normal tidak menghasilkan perkecambahan atau hanya sedikit perkecambahan. Perlakuan tertentu perlu dilakukan untuk mematahkan dormansi sehingga benih menjadi tanggap terhadap kondisi yang kondusif bagi pertumbuhan. Bagian tumbuhan yang lainnya yang juga diketahui berperilaku dorman adalah kuncup.

II.    PENYEBAB TERJADINYA DORMANSI

Benih yang mengalami dormansi ditandai oleh :
·    Rendahnya / tidak adanya proses imbibisi air.
·    Proses respirasi tertekan / terhambat.
·    Rendahnya proses mobilisasi cadangan makanan.
·    Rendahnya proses metabolisme cadangan makanan.
Kondisi dormansi mungkin dibawa sejak benih masak secara fisiologis ketika masih berada pada tanaman induknya atau mungkin setelah benih tersebut terlepas dari tanaman induknya. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji dan keadaan fisiologis dari embrio atau bahkan kombinasi dari kedua keadaan tersebut.
Secara umum menurut Aldrich (1984) Dormansi dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu :
·    Innate dormansi (dormansi primer)
·    Induced dormansi (dormansi sekunder)
·    Enforced dormansi

Sedangkan menurut Sutopo (1985) Dormansi dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu :
·    Dormansi Fisik, dan
·    Dormansi Fisiologis



A.    Dormansi Fisik
Dormansi fisik disebabkan oleh pembatasan struktural terhadap perkecambahan biji, seperti kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas-gas ke dalam biji.
Beberapa penyebab dormansi fisik adalah :

1.    Impermeabilitas kulit biji terhadap air
Benih-benih yang termasuk dalam type dormansi ini disebut sebagai "Benih keras" karena mempunyai kulit biji yang keras dan strukturnya terdiri dari lapisan sel-sel serupa palisade berdinding tebal terutama di permukaan paling luar. Dan bagian dalamnya mempunyai lapisan lilin dan bahan kutikula.

2.    Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio
    Disini kulit biji cukup kuat sehingga menghalangi pertumbuhan embrio. Jika kulit biji dihilangkan, maka embrio akan tumbuh dengan segera.
Benih semangka tanpa biji dan alat untuk mematahkan masa dormansinya



3.    Permeabilitas yang rendah dari kulit biji terhadap gas-gas
    Pada dormansi ini, perkecambahan akan terjadi jika kulit biji dibuka atau jika tekanan oksigen di sekitar benih ditambah. Pada benih apel misalnya, suplai oksigen sangat dibatasi oleh keadaan kulit bijinya sehingga tidak cukup untuk kegiatan respirasi embrio. Keadaan ini terjadi apabila benih berimbibisi pada daerah dengan temperatur hangat.
Benih kacang adalah benih sayur yang tidak kenal masa dormansinya




B.    Dormansi Fisiologi
    Dormansi Fisiologis, dapat disebabkan oleh sejumlah mekanisme, tetapi pada umumnya disebabkan oleh zat pengatur tumbuh, baik yang berupa penghambat maupun perangsang tumbuh
Beberapa penyebab dormansi fisiologis adalah :

1.    Immaturity Embrio
    Pada dormansi ini perkembangan embrionya tidak secepat jaringan sekelilingnya sehingga perkecambahan benih-benih yang demikian perlu ditunda. Sebaiknya benih ditempatkan pada tempe-ratur dan kelembaban tertentu agar viabilitasnya tetap terjaga sampai embrionya terbentuk secara sempurna dan mampu berkecambah.
2.    After ripening
    Benih yang mengalami dormansi ini memerlukan suatu jangkauan waktu simpan tertentu agar dapat berkecambah, atau dika-takan membutuhkan jangka waktu "After Ripening". After Ripening diartikan sebagai setiap perubahan pada kondisi fisiologis benih selama penyimpanan yang mengubah benih menjadi mampu berkecambah. Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-beda dari beberapa hari sampai dengan beberapa tahun, tergantung dari jenis benihnya.

    3.    Dormansi Sekunder
    Dormansi sekunder disini adalah benih-benih yang pada keadaan normal maupun berkecambah, tetapi apabila dikenakan pada suatu keadaan yang tidak menguntungkan selama beberapa waktu dapat menjadi kehilangan kemampuannya untuk berkecambah. Kadang-kadang dormansi sekunder ditimbulkan bila benih diberi semua kondisi yang dibutuhkan untuk berkecambah kecuali satu. Misalnya kegagalan memberikan cahaya pada benih yang membutuhkan cahaya.
    Diduga dormansi sekunder tersebut disebabkan oleh perubahan fisik yang terjadi pada kulit biji yang diakibatkan oleh pengeringan yang berlebihan sehingga pertukaran gas-gas pada saat imbibisi menjadi lebih terbatas.

4.    Dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolis pada embrio
    Dormansi ini dapat disebabkan oleh hadirnya zat penghambat perkecambahan dalam embrio. Zat-zat penghambat perkecambahan yang diketahui terdapat pada tanaman antara lain : Ammonia, Abcisic acid, Benzoic acid, Ethylene, Alkaloid, Alkaloids Lactone (Counamin) dll. Counamin diketahui menghambat kerja enzim-enzim penting dalam perkecambahan seperti Alfa dan Beta amilase.
Tipe dormansi lain selain dormansi fisik dan fisiologis adalah kombinasi dari beberapa tipe dormansi. Tipe dormansi ini disebabkan oleh lebih dari satu mekanisme. Sebagai contoh adalah dormansi yang disebabkan oleh kombinasi dari immaturity embrio, kulit biji indebiscent yang membatasi masuknya O2 dan keperluan akan perlakuan chilling.

III.     Cara praktis memecahkan dormansi pada benih tanaman pangan
Tujuan pematahan dormansi adalah mendorong proses pematangan embrio, mengaktifkan enzim di dalam embrio, dan peningkatan permeabilitas kulit benih yang memungkinkan masuknya air dan gas-gas yang diperlukan dalam perkecambahan (Muchtar 1987).
Untuk mengetahui dan membedakan/memisahkan apakah suatu benih yang tidak dapat berkecambah adalah dorman atau mati, maka dormansi perlu dipecahkan. Masalah utama yang dihadapi pada saat pengujian daya tumbuh/kecambah benih yang dormansi adalah bagaimana cara mengetahui dormansi, sehingga diperlukan cara-cara agar dormansi dapat dipersingkat.
Bewley dan Black (1985) mengemukakan 2 proses mekanisme pematahan dormansi, yaitu :
1.    Proses dormansi hormonal, konsep dari teori tersebut dihubungkan dengan hormon pengatur tumbuh, baik yang menghambat (inhibitor) maupun yang merangsang pertumbuhan (promotor). Dormansi dapat dipatahkan dengan  menghilangkan inhibitor atau dengan penggunaan promotor yang mampu mempercepat terjadinya keseimbangan antara inhibitor dan promotor.
2.    Proses pengaruh metabolik sebagai akibat perlakuan pematahan dormansi,   konsepnya melibatkan lintasan pentose fosfat untuk sintesis RNA, DNA dan protein.

Ada beberapa cara yang telah diketahui adalah :
A.    Dengan perlakuan mekanis
    Diantaranya yaitu dengan Skarifikasi. Skarifikasi mencakup cara-cara seperti mengkikir/menggosok kulit biji dengan kertas amplas, melubangi kulit biji dengan pisau, memecah kulit biji maupun dengan perlakuan goncangan untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus.
Tujuan dari perlakuan mekanis ini adalah untuk melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas.
B.    Dengan perlakuan kimia
    Tujuan dari perlakuan kimia adalah menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam sulfat, asam nitrat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah.
·    Sebagai contoh perendaman benih ubi jalar dalam asam sulfat pekat selama 20 menit sebelum tanam.
·    Perendaman benih padi dalam HNO3 pekat selama 30 menit.
·    Pemberian Gibberelin pada benih terong dengan dosis 100 - 200 PPM.
Bahan kimia lain yang sering digunakan adalah potassium hidroxide, asam hidrochlorit, potassium nitrat dan Thiourea. Selain itu dapat juga digunakan hormon tumbuh antara lain: Cytokinin, Gibberelin dan iuxil (IAA).
C.    Perlakuan perendaman dengan air
    Perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh benih.
Caranya yaitu : dengan memasukkan benih ke dalam air panas pada suhu 60 - 70 0C dan dibiarkan sampai air menjadi dingin, selama beberapa waktu. Untuk benih apel, direndam dalam air yang sedang mendidih, dibiarkan selama 2 menit lalu diangkat keluar untuk dikecambahkan.
   
Perendaman dengan air panas  merupakan salah satu cara memecahkan masa dormansi benih
HCl adalah salah satu bahan kimia yang dapat mengatasi masalah dormansi pada benih




D.    Perlakuan dengan suhu
      Cara yang sering dipakai adalah dengan memberi temperatur rendah pada keadaan lembab (Stratifikasi). Selama stratifikasi terjadi sejumlah perubahan dalam benih yang berakibat menghilangkan bahan-bahan penghambat perkecambahan atau terjadi pembentukan bahan-bahan yang merangsang pertumbuhan.
         Kebutuhan stratifikasi berbeda untuk setiap jenis tanaman, bahkan antar varietas dalam satu famili.
E.    Perlakuan dengan cahaya
        Cahaya berpengaruh terhadap prosentase perkecambahan benih dan laju perkecambahan. Pengaruh cahaya pada benih bukan saja dalam jumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan panjang hari.

Beberapa contoh  pematahan dormansi pada tanaman tertentu :

Tipe dormansi    Karakteristik    Contoh spesies    Metode pematahan dormansi      
            Alami    Buatan      
Immature embryo    Benih secara fisiologis belum mampu berkecambah, karena embryo belum masak walaupun biji sudah masak    Fraxinus excelcior, Ginkgo biloba, Gnetum gnemon    Pematangan secara alami setelah biji disebarkan    Melanjutkan proses fisiologis pemasakan embryo setelah biji mencapai masa lewat-masak (after-ripening)      
Dormansi mekanis    Perkembangan embryo secara fisis terhambat karena adanya kulit biji/buah yang keras    Pterocarpus, Terminalia spp, Melia volkensii    Dekomposisi bertahap pada struktur yang keras    Peretakan mekanis      
Dormansi fisis    Imbibisi/penyerapan air terhalang oleh lapisan kulit biji/buah yang impermeabel    Beberapa Legum & Myrtaceae    Fluktuasi suhu    Skarifikasi mekanis, pemberian air panas atau bahan kimia      
Dormansi chemis    Buah atau biji mengandung zat penghambat (chemical inhibitory compound) yang menghambat perkecambahan    Buah fleshy (berdaging)    Pencucian (leaching) oleh air, dekomposisi bertahap pada jaringan buah    Menghilangkan jaringan buah dan mencuci bijinya dengan air      
Foto
dormansi    Biji gagal berkecambah tanpa adanya pencahayaan yang cukup. Dipengaruhi oleh mekanisme biokimia fitokrom    Sebagian besar spesies temperate, tumbuhan pioneer tropika humida seperti eucalyptus dan Spathodea    Pencahayaan    Pencahayaan      
Thermo
dormansi    Perkecambahan rendah tanpa adanya perlakuan dengan suhu tertentu    Sebagian besar spesies temperate, tumbuhan pioneer daerah tropis-subtropis kering, tumbuhan pioneer tropika humida    Penempatan pada suhu rendah di musim dingin
Pembakaran
Pemberian suhu yang berfluktuasi    Stratifikasi atau pemberian perlakuan suhu rendah
Pemberian suhu tinggi
Pemberian suhu berfluktuasi   

V.    Penelitian yang berhubungan dengan Teknik Pematahan Dormansi
Asikin dan Puspaningtyas (2000) melakukan pematahan dormansi untuk mengatasi impermeabilitas kulit biji aren melalui perendaman dengan HCl, H2SO4, air panas dan skarifikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dormansi biji aren dan variasinya serta mengetahui penyebab dormansi secara in vivo dan in vitro. Hasil pengamatan secara in vitro menunjukkan bahwa terdapat perbedaan masa perkecambahan antara eksplan embrio dan eksplan biji (embrio+endosperm). Embrio mulai berkecambah 1-2 minggu setelah semai (MSS), sedangkan biji baru memperlihatkan pertumbuhan apokol setelah 8-10 MSS. Hasil pengamatan secara in vivo menunjukkan bahwa lama dormansi dan daya berkecambah biji aren secara nyata  dipengaruhi oleh sumber benih/pohon induknya (2-8 minggu) dengan daya berkecambah sebesar 16-95 persen.Perlakuan biji secara nyata mampu mengurangi variasi lama dormansi menjadi hanya 2-3 MSS dan meningkatkan daya berkecambah menjadi 49-100 persen. Dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa penyebab dormansi kemungkinan besar berasal dari kulit biji yang impermeabel dan inhibitor perkecambahan yang ada pada kulit biji dan endosperm biji, karena embrio yang ditanam langsung secara in vitro dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan eksplan embrio+endosperm.
 Saleh (2004) melakukan teknik pematahan dormansi benih aren dengan cara skarifikasi dikombinasikan dengan lama ekstraksi buah aren. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan skarifikasi dan ekstraksi buah selama 30 hari menghasilkan daya berkecambah terbanyak yaitu masing-masing 46,95 % dan 38,43 % dibanding perlakuan lainnya. Kecepatan berkecambah benih aren tercepat yaitu 41,82 hari. Perlakuan skarifikasi dan ekstraksi buah memungkinkan air masuk ke dalam benih (imbibisi) untuk dapat memulai berlangsungnya proses perkecambahan benih lebih cepat.
Rofik dan Murniati (2008) menyatakan bahwa perlakuan deoperkulasi benih merupakan teknologi sederhana yang sangat efektif dalam mematahkan masalah dormansi pada benih aren. Kombinasi deoperkulasi dengan media perkecambahan (media pasir) memberikan hasil Potensi Tumbuh Maksimum sebesar 96,67 %, daya berkecambah 88,33 %, dan nilai kecepatan berkecambah sebesar 0,61. Semakin tinggi nilai kecepatan berkecambah, maka semakin tinggi vigor benih tersebut dan benih semakin cepat perkecambahannya. Widyawati et al., 2009 melakukan penelitian mengenai sifat permeabilitas dan menemukan teknik mempercepat perkecambahan benih aren yang efektif dan efisien dalam usaha untuk mempercepat perkecambahan benih aren. Dari penelitian ini diperoleh informasi bahwa semakin tua benih aren maka permeabilitasnya terhadap air semakin menurun, tetapi tidak bersifat impermeabel sehingga imbibisi berlangsung lebih lama, antara lain disebabkan oleh meningkatnya kandungan lignin dan tanin yang menutupi sel-sel sklereid kulit benih. Hasil terbaik dalam mematahkan dormansi benih aren yaitu pengampelasan pada bagian operkulum, yang merupakan tempat keluarnya kecambah benih. Hasil daya berkecambah tertinggi yaitu sebesar 82,50%.
 Mulyadi (2010) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui lama waktu ekstraksi buah dan perlakuan biji yang tepat dan berpengaruh baik terhadap  perkecambahan benih aren. Hasil penelitian menunjukkan terjadi interaksi antara lama ekstraksi dengan cara pemecahan dormansi terhadap prosentase perkecambahan pada umur 12 dan 15 MST dan panjang kecambah aren pada 15 MST, lama ekstraksi 3 minggu dengan perendaman GA3 memperlihatkan pengaruh paling baik. Cara pemecahan dormansi benih aren paling efektif pada penelitian ini yaitu perendaman dalam larutan GA3.
Rinaldi ( 2010) menyatakan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan skarifikasi dan lama perendaman terhadap perkecambahan benih aren. Benih yang telah diskarifikasi dan direndam selama 24 jam memberikan hasil terbaik dengan daya berkecambah 70,21%, kecepatan berkecambah 37,25 hari, panjang axis embrio 6,09 cm, panjang akar kecambah 10,77 cm dan vigor sebesar 48,37 %. Penelitian pada palmae lain yaitu benih palem botol yang dilakukan oleh Sipayung (2010) menunjukkan bahwa pengaruh skarifikasi bagian-bagian benih mampu mempercepat proses perkecambah.




DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/Dormansi - diakses pada tanggal 24 Agustus 2012
http://www.tanindo.com/ - diakses pada tanggal 24 Agustus 2012
http://pardomuanpane.blogspot.com/2009/08/teknik-pembibitan-aren.html. Diakses 25         Agustus  2012.
http://agrica.wordpress.com/2009/01/03/dormansi-biji/#more-154 diakses 27 Agustus 2012









Kamis, 30 Agustus 2012

Game Online Bahaya gak ya???

        By. Robin Ginting 

         Game online adalah salah satu product dari perkembangan teknologi. game online pada dasarnya sama dengan game offline atau game biasanya. perbedaannya hanya pada permainannya dan jumlah pemainnya, biasanya game offline tidak menggunakan internet, biasaya lawannya hanya berupa komputer saja atau beberapa teman terbatas, sehingga dapat memicu kebosanan. 
        Hal ini berbeda sekali dengan game online, didalam permainan game online kita bisa bermain dengan lawan  manusia kapan saja, tidak peduli kapanpun itu waktunya. selain itu dipermainan juga bisa komunikasi dengan lawan sehingga membaut game online lebih tanpak hidup.
        Hal inilah  yang menyebabkan permainan dalam game online kecanduan. walaupun sebenarnya game offline juga dapat menyebabkan kecanduan tetapi batas kecanduannya tidak seperti game online. 
       Game online juga ternyata berpengaruh terhadap prestasi seorang anak, karena anak-anak sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan gamenya sehingga lupa dengan pelajarannya. merebaknya game online bukan hanya di perkotaan tetapi di plosok-plosokpun bahkan sudah merebak.  itu artinya game online menyebar ibarat virus yang begitu cepat dan memberikan dampaknya kepada orang yang dihinggapinya. 
         ibarat seorang pelukis yang selalu terinspirasi dengan objek yang dilihatnya, ternyata game online juga dapat memicu inspirasi seorang mahasiswa disalah satu perguruan swasta jawa timur untuk melakukan aksinya merampok supermarket, dan melakukannya sesuai dengan teknik yang sering dimainkan di game oneline. kalau ini terus terjadi bukan hanya seorang mahasiswa nanti yang terinspirasi melaiannya banyak siswa /mahasiswa yang lainnya.
         

Rabu, 29 Agustus 2012

Analisis Kritis

REVIEW (ANALISIS KRITIS JURNAL)

Oleh:  Robin Ginting (8126173027)

Program Magister Pendidikan Biologi Program Pascasarjana Unimed

A.    TOPIK YANG DIBAHAS
Perkecambahan dan Pertumbuhan Palem Jepang (Actinophloeus macarthurii Becc.) akibat Perendaman  Biji dalam Lumpur
B.    Bibliografi Penulis   
 Sujarwati,  Santosa

C.    Jurnal   
Volume 2(6) : hal 99-103 Pebruari 2004

D.    Fakta-Fakta yang Terungkap
Palem Jepang (Actinophloeu macarthurii Becc.) merupakan salah satu jenis palem yang berpotensi sebagai tanaman hias. Palem jepang tumbuh berumpun, tajuknya indah dengan daun menyirip, apalagi bila buahnya telah masak berwarna merah.
Beberapa perlakuan yang biasa digunakan untuk mempercepat perkecambahan palem ( pematahan dormansi ) adalah perendaman biji dalam GA3100 ppm selama 72 jam pada Archontophoenix alexandrae  (Nagao & Sakai 1979), kombinasi skarifikasi dan perendaman dalam GA3100 ppm pada  Archontophoenix alexandrae  dan  Ptychospermae macharthurii    (Nagao    et al, 1980), peretasan kulit dan perendaman biji dalam GA3  2000 ppm selama 48 jam pada Licuala grandis (Soedjono & Suskandari 1997), perendaman dalam air selama 72 jam pada palem merah (Crytotachys lakka Becc.) (Natasasmita 1996), perendaman biji dalam larutan  KNO3 0,2% pada  Roystonea regia  (Rinzani 1998), serta perendaman dengan asam sulfat 96% selama  30 menit pada palem Chamaedorea seifrizii (Daquinta et al, 1996). Perendaman biji dalam lumpur selama 2 dan 4 hari, dalam air selama 2 dan 4 hari, serta dalam HCl pekat selama 5, 10, dan 15 menit menunjukkan bahwa perendaman dalam lumpur selama 4 hari memberikan nilai    rata-rata persentase perkecambahan tertinggi dibandingkan perlakuan  lainnya.
Di alam, dormansi karena kulit biji yang keras dapat dipatahkan melalui perusakan kulit biji oleh mikroorganisme yang terdapat di tanah (Bewley & Back 1982). Pada perlakuan perendaman biji dalam lumpur, diduga mikroorganisme yang terdapat dalam lumpur turut berperan dalam pematahan dormansi biji palem. Pada tanah tergenang (termasuk lumpur), ruang antar partikel tanah jenuh dengan air, konsentrasi oksigen dalam tanah berkurang, sehingga hanya mikroorganisme anaerob yang dapat tumbuh (Black 1999). Semakin dalam biji direndam, kondisi di sekitar biji akan semakin anaerob.
Perbedaan kedalaman perendaman berakibat pada ketersediaan oksigen. Semakin dalam perendaman, kondisi semakin anaerob. Pengaruh kondisi anaerob dalam memacu perkecambahan biji juga ditemui pada biji apel dan bunga matahari. Ada beberapa dugaan mekanisme kondisi anaerob dalam memacu perkecambahan biji dorman. Kondisi anaerob biasanya menyebabkan peningkatan produksi etanol melalui proses fermentasi. Akumulasi etanol dapat memecahkan dormansi pada beberapa biji (Corbineau & Come 1995). Hal ini juga didukung penelitian Bewley & Back (1982) bahwa pemberian etanol eksogen dapat memecahkan dormansi biji.
Perlakuan perendaman biji dalam lumpur dapat mempercepat waktu awal berkecambah. Perkecambahan pada biji yang mendapat perlakuan  perendaman dalam lumpur teramati mulai minggu ke 6. Sedangkan pada kontrol, perkecambahan mulaiteramati pada minggu ke 11. Hasil ini sesuai dengan  penelitian Juhaeti & Rahayu (1990). Pada palem Roystonea elata Bartr. Harper, perlakuan perendaman biji dalam lumpur selama 4 hari memberikan nilai rata-rata persentase  perkecambahan tertinggi dibandingkan perlakuan perendaman dalam air selama 2 dan 4 hari, serta dalam HCl pekat selama 5, 10, dan 15 menit.
Sterilisasi pada lumpur yang digunakan untuk perendaman biji, tidak berpengaruh terhadap perkecambahan dan pertumbuhan palem jepang. Perbedaan kedalaman perendaman biji dalam lumpur berpengaruh terhadap persentase dan kecepatan perkecambahan palem jepang.

E.    Fakta-Fakta yang Belum Terungkap
Pada jurnal ini penulis hanya melakukan perlakuan pematahan dormansi dengan perlakuan perendaman biji palem jepang di lumpur. Sementara pematahan dormansi biji tanaman dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti: perlakuan mekanis yaitu skarifikasi, perlakuan dengan suhu, perlakuan dengan cahaya dan perlakuan dengan zat kimia yang lain.

F.    Pertanyaan Yang Muncul
Apakah metode pematahan dormansi pada palem jepang lebih cepat  dengan perlakuan perendaman di dalam lumpur dibandingkan dengan perlakuan yang lain.

G.    Refleksi Diri
Membaca dan memahami isi jurnal ini memberi wawasan bagi penulis untuk lebih memahami metode pematahan dormansi pada biji, dengan mengetahui berbagai metode pematahan dormansi pada biji, para peneliti/petani  dapat melakukannya agar proses perkecambahan dapat berlangsung dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan.

Review Jurnal

 REVIEW (ANALISIS KRITIS JURNAL
Oleh:  Robin Ginting (8126173027)

  Program Magister Pendidikan Biologi Program Pascasarjana Unimed

A.    TOPIK YANG DIBAHAS
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Berbasis TIK  Untuk Memperbaiki Kualitas Pembelajaran Keanekaragaman Hayati

B.    Bibliografi Penulis   
 Herfen Suryati

C.    Jurnal   
Volume/Jilid 4 Nomor 1  : hal 1-5 September 2008

D.    Fakta-Fakta yang Terungkap
Sistem  pembelajaran  yang  baik  menurut Johnson (2002) adalah pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan  yang  dimilikinya  atau  yang  lebih  dikenal dengan  Contextual  Teaching  and  Learning  (CTL). Hal  tersebut  akan  membantu  siswa  mengembangkan diri  secara  optimal  dan  memberikan  pengalaman  belajar  yang  menyenangkan  sehingga  dapat  mengakomodasikan pengetahuannya dari pengalaman yang dimilikinya.
Proses  pembelajaran  konsep  keanekaragaman hayati  melalui  media  pembelajaran  berbasis  TIK  lebih ditujukan kepada upaya: (1) memperjelas konsep agar tidak terlalu verbalistis, (2) mengatasi hambatan ruang, waktu, dan daya indra, (3) mengatasi keterbatasan  variasi  bentuk  lingkungan  dan  organisme  yang dapat diamati, (4) mengatasi sikap pasif siswa menjadi lebih bergairah, (5) melibatkan seluruh warga belajar,  dan  (6)  mengkondisikan  munculnya  persamaan persepsi  dan  pengalaman  belajar  siswa.  Dengan  de-mikian, akan terjadi peningkatan kualitas pembelajaran,  munculnya  keterampilan  bekerja  sama  (kooperatif)  siswa  dalam  kelompok  belajarnya,  serta  adanya peningkatan hasil belajar siswa.
Penelitian  ini  merupakan  penelitian  tindakan kelas  (classroom  action  research)  dengan  pelaksana kolaboratif  antara  pengamat  dengan  peneliti  sebagai pelaku  tindakan.  Langkah  penelitian  ini  bersifat  refleksi tindakan dengan pola proses pengkajian berdaur  (siklus)  yang  terdiri  atas  perencanaan,  tindakan, observasi,  dan  refleksi.  Tindakan  dilaksanakan  sebanyak 3 siklus.
Adapun  metode  yang  diterapkan dalam pembelajaran konsep keanekaragaman hayati  pada  masing-masing  siklus  secara  berturut-turut  adalah (1) metode diskusi informasi dengan peran guru lebih dominan sebagai pemberi informasi, (2) metode diskusi informasi dengan peran guru sebagai fasilitator  dan  pembelajaran  lebih  ditekankan  kepada siswa  sebagai  subyek  belajar  di  kelompoknya,  dan (3)  menggunakan  media  pembelajaran  berbasis  TIK yang  dikolaborasikan  dengan  metode  diskusi  informasi dan praktik.
Proses  pembelajaran  konsep  keanekaragaman hayati  dengan  menggunakan  media  pembelajaran berbasis  TIK  ternyata  dapat  meningkatkan  aktivitas siswa  dan  dapat  memunculkan  keterampilan  bekerja sama siswa di dalam kelompok belajarnya. Peningkatan  ini  ternyata  berdampak  pada  meningkatnya  prestasi siswa. 

E.    Fakta-Fakta yang Belum Terungkap
Penggunaan media berbasis TIK tidak dijelaskan secara mendetail, apakah berupa powerpoin, Flash, film atau lainnya.
F.    Pertanyaan Yang Muncul
Apakah  media berbasis TIK cocok untuk semua materi pelajaran? Apakah maksimal media berbasis TIK di gunakan tanpa dikolaborasikan dengan PTK?

G.    Refleksi Diri
Membaca dan memahami isi jurnal ini memberi wawasan bagi penulis untuk lebih memahami metode pembelajaran yang cocok untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dan kita dapat  memanfaatkan media teknologi sebagai sarana dan prasarana tuk meningkatkan mutu pendidikan dan serta kualitas hasil belajar siswa.


Belajar Tuntas

PEMBELAJARAN TUNTAS
Oleh: Robin Ginting, S.Pd

Metode pembelajaran adalah cara untuk mempermudah peserta didik mencapai kompetensi tertentu. Hal ini berlaku baik bagi guru (dalam pemilihan metode mengajar) maupun bagi peserta didik (dalam memilih strategi belajar). Dengan demikian makin baik metode, akan makin efektif pula pencapaian tujuan belajar (Winarno Surahmad, 1982). Langkah metode pembelajaran yang dipilih memainkan peranan utama, yang berakhir pada semakin meningkatnya prestasi belajar peserta didik.
Pembelajaran tuntas (mastery learning) dalam proses pembelajaran berbasis kompetensi dimaksudkan adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan  peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. Dalam model yang paling sederhana, dikemukakan bahwa jika setiap peserta didik diberikan waktu sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat penguasaan, dan jika dia menghabiskan waktu yang diperlukan, maka besar kemungkinan peserta didik akan mencapai tingkat penguasaan kompetensi. Tetapi jika peserta didik tidak diberi cukup waktu atau dia tidak dapat menggunakan waktu yang diperlukan secara penuh, maka tingkat penguasaan kompetensi peserta didik tersebut belum optimal.
Model ini menggambarkan bahwa tingkat penguasaan kompetensi (degree of learning) ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang benar-benar digunakan (time actually spent) untuk belajar dibagi dengan waktu yang diperlukan (time needed) untuk menguasai kompetensi tertentu.
Dalam pembelajaran konvensional, bakat (aptitude) peserta didik tersebar secara normal. Jika kepada mereka diberikan pembelajaran yang sama dalam jumlah pembelajaran dan waktu yang tersedia untuk belajar, maka hasil belajar yang dicapai akan tersebar secara normal pula. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hubungan antara bakat dan tingkat penguasaan adalah tinggi.
Sebaliknya, apabila bakat peserta didik tersebar secara normal, dan kepada mereka diberi kesempatan belajar yang sama untuk setiap peserta didik, tetapi diberikan perlakuan yang berbeda dalam kualitas pembelajarannya, maka besar kemungkinan bahwa peserta didik yang dapat mencapai penguasaan akan bertambah banyak. Dalam hal ini hubungan antara bakat dengan keberhasilan akan menjadi semakin kecil.
Dari konsep-konsep di atas, kiranya cukup jelas bahwa harapan dari proses pembelajaran dengan pendekatan belajar tuntas adalah untuk mempertinggi rata-rata prestasi peserta didik dalam belajar dengan memberikan kualitas pembelajaran yang lebih sesuai, bantuan, serta perhatian khusus bagi peserta didik yang lambat agar menguasai standar kompetensi atau kompetensi dasar. Dari konsep tersebut, dapat dikemukakan prinsip-prinsip utama pembelalaran tuntas adalah:
1.    Kompetensi yang harus dicapai peserta didik dirumuskan dengan urutan yang  hirarkis,
2.    Evaluasi yang digunakan adalah penilaian acuan patokan, dan setiap kompetensi harus diberikan feedback,
3.    Pemberian pembelajaran remedial serta bimbingan yang diperlukan,
4.    Pemberian program pengayaan bagi peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar lebih awal.

Perbedaan antara Pembelajaran Tuntas dengan Pembelajaran Konvensional

    Pembelajaran tuntas adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan secara individual. Dalam hal pemberian kebebasan belajar, serta untuk mengurangi kegagalan peserta didik dalam belajar, strategi belajar tuntas menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan peserta didik sedemikian rupa, sehingga dengan penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal. Dasar pemikiran dari belajar tuntas dengan pendekatan individual ialah adanya pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing peserta didik.
    Untuk merealisasikan pengakuan dan pelayanan terhadap perbedaan individu, pembelajaran harus menggunakan strategi pembelajaran yang berasaskan maju berkelanjutan (continuous progress). Untuk itu, pendekatan sistem yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam teknologi pembelajaran harus benar-benar dapat diimplementasikan. Salah satu caranya adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar harus dinyatakan secara jelas, dan pembelajaran dipecah-pecah ke dalam satuan-satuan (cremental units). Peserta didik belajar selangkah demi selangkah dan boleh mempelajari kompetensi dasar berikutnya setelah menguasai sejumlah kompetensi dasar yang ditetapkan menurut kriteria tertentu. Dalam pola ini, seorang peserta didik yang mempelajari unit satuan pembelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan pembelajaran berikutnya jika peserta didik yang bersangkutan telah menguasai sekurang-kurangnya 75% dari kompetensi dasar yang ditetapkan. Sedangkan pembelajaran konvensional dalam kaitan ini diartikan sebagai pembelajaran dalam konteks klasikal yang sudah terbiasa dilakukan, sifatnya berpusat pada guru, sehingga pelaksanaannya kurang memperhatikan keseluruhan situasi belajar (non belajar tuntas).
  
Simpulan

Dengan memperhatikan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa perbedaan antara pembelajaran tuntas dengan pembelajaran konvensional adalah bahwa pembelajaran tuntas dilakukan melalui asas-asas ketuntasan belajar, strategi pembelajaran tuntas juga menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi juga mengakui dan memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual peserta didik, sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal. Sedangkan pembelajaran konvensional pada umumnya kurang memperhatikan ketuntasan belajar khususnya ketuntasan peserta didik secara individual.

Penulis adalah Mahasiswa S-2 Universitas Negeri Medan (Unimed);
e-mail: robin.ginting85@gmail.com